Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Uniknya Rumah Kapitan, Warisan Budaya Bagan Siapiapi

rumah kapitan bagan siapiapi rokan hilir

Mirwaners, kota Bagan Siapiapi, Rokan Hilir, merupakan kota yang penuh dengan hasil peninggalan sejarah Belanda. Sebagaimana yang telah saya kunjungi kemaren bersama tim Bagan Heritage, salah satunya peninggalan sejarah yang ada di Bagan Siapiapi adalah Rumah Kapitan. Di Provinsi Riau sendiri, sepertinya tidak ada lagi bangunan Rumah Kapitan, kecuali hanya ada di Bagan Siapiapi. Jadi, Rumah Kapitan yang ada di kota Bagansiapiapi ini adalah satu-satunya  Rumah Kapitan yang masih berdiri sampai sekarang.


Kota Bagansiapiapi ini juga merupakan kota yang memiliki mayoritas suku Tionghoa dan Melayu. Meskipun berbeda suku namun mereka tetap damai dan harmoni dalam menjalani aktifitas dalam kehidupan sehari-hari sejak dahulu. Salah satu bukti keharmonisan mereka dalam kehidupan bersuku-suku adalah adanya hasil peninggalan sejarah Belanda ini, Rumah Kapitan, yang didesain dengan gaya Tradisonal Tionghoa dan Melayu. 

Rumah Kapitan ini adalah warisan budaya sejak zaman dahulu dengan seni arsitektur yang klasik dipadu dengan gaya Tradisional Tionghoa dan Melayu yang seharusnya dirawat karena sebagai symbol keberagaman suku di Bagansiapiapi yang hidup dengan damai dan harmoni.  Selain itu, rumah kapitan ini bisa dijadikan salah satu objek wisata yang mungkin bisa mendapatkan perhatian bagi setiap wisatawan atau para traveller yang berkunjung ke kota “kota ikan” itu.

Sebenarnya terdapat beberapa Rumah Kapitan lain di kota ini, namun sebagian besar bangunan tradisional tersebut tidak terawat, bahkan beberapa rumah kapitan lainnya telah dihancurkan. Bangunan yang terbuat dari papan ini dirubuhkan dan dibongkar demi semata untuk memenuhi kepentingan ekonomi atau kepentingan modernisasi. Kini salah satu rumah kapitan yang tersisa di kota ini adalah Rumah Kapitan Tua Marga NG milik Kapitan NG I Tam. Bangunan ini telah didirkan pada awal tahun 1900.

rumah kapitan bagan siapiapi rokan hilir

Didalam rumah yang bersejarah ini masih terdapat beberapa peralatan yang sengaja ditinggalkan seperti beberapa kursi tua yang masih bisa dipakai untuk tempat duduk, sebuah piano tua yang sudah uzur dimakan usia, sepeda anak yang sangat klasik yang kini tentunya tidak akan diproduksi lagi sepeda yang sedemikian rupa. Dan masih banyak lagi peralatan-peralatan kuno yang terdapat didalam rumah kapitan ini. Selain itu, corak dinding, jendela dan pintu serta komponen-komponen lainnya yang terlihat sangat klasik dan berseni membedakan bagunan ini dengan bangunan modern yang berada disekitarnya.


Menurut sejarah, Kapitan merupakan seorang pejabat yang diangkat oleh Pemerintahan Kolonial Belanda yang zaman dahulu ia dipilih menjadi pejabat atas dasar ketokohan dan kekayaan serta pengaruh dalam masyarakat pedagang Tionghoa. Kapitan Tionghoa pada umumnya merupakan orang-perorang yang sangat kaya diantara komunitas masyarakat Tionghoa pada saat itu. Dan pada saat itu, kekayaan seseorang merupakan bagian dari parameter penghargaan yang tinggi dan juga pengaruh ketokohannya pada komunitas masyarakat Tionghoa yang dipercayai penuh berperan menjembatani kepentingan ekonomi, politik, dan sosial antara Pemerintah Kolonial Belanda dengan Komunitas Tionghoa.

rumah kapitan bagan siapiapi rokan hilir

Dengan peninggalan sejarah yang hanya ada di Bagan Siapiapi ini, sudah sewajarnyalah Pemerintahan Provinsi Riau, khususnya Pemda Rokan Hilir memperhatikan dan merawat peninggalan yang sangat berharga ini. Karena selain sebagai warisan budaya, juga sebagai destinasi wisata sejarah yang akan dikunjungi oleh para wisatawan. Bagi para wisatawan atau traveller diluar sana, mari kita kunjungi dan melihat dengan mata sendiri peninggalan sejarah Belanda di kota Bagan Siapiapi ini yang kemungkinan beberapa tahun lagi akan musnah dimakan oleh waktu jika tidak ada perawatan dari penduduk setempat.

46 komentar untuk "Uniknya Rumah Kapitan, Warisan Budaya Bagan Siapiapi"

  1. kapitan di palembang juga ada mas, cuma mungkin masih terawat untuk didaerah mas, daripada disini :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oohh... Ada juga ya Rumah Kapitan di Palembang? Bagus deh kalau terawat. Semoga nanti yang di Bagn juga dirawat oleh penduduk disana.

      Hapus
    2. ada mas, di kampung arab tempatnya.
      semoga aja mas :)

      Hapus
    3. Oh gitu ya? Mantap!!!

      Hapus
  2. wih kayu-kayunya meski keliatan usang tapi masih awet gak dimakan masa apalagi rayap ya mas, jadi membawa sejarah. Andai lebih dipoles lagi pasti lebih menarik. Btw, aku taunya Kapitan itu seorang kapiten yang mempunyai pedang panjang ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Lia, padahal udah 1 abad lho umurnya. Masih awet. Tapi sayang, hanya kurang terawat.

      Hapus
  3. itu masih di huni ngga bang? apa cuma dipakai buat objek wisata aja?
    kayu-kayu dan arsitekturnya masih kuno banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah gak di huni lagi mbak. Rumah ini udah di tutup oleh penjaganya, dibuka hanya ketika ada wisatawan yang pingin lihat didalam.

      Hapus
  4. wah pianonya sampe kayak gitu
    ini heritage banget, harus ekstra ngewaratnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, benar-benar heritage ini. Hahaha.... Sayangnya, kurang terawat.

      Hapus
  5. seharusnya warga dan pemerintah saling membantu untuk menjaga dan melestarikan situs dan sejarahnya agar tidak hilang dimakan waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, kerja sama dari semua pihak sangat di butuhkan untuk merawat peninggalan sejarah ini.

      Hapus
  6. Benar unik rumahnya ya, Mas. Aku penasaran sama sepedanya itu, masih ada ternyata ya :)
    Coba kalau masih bisa digunakan ya, Mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas Andi. Masih ada kok mas sepedanya, tapi kecil. Gak cocok buat mas. Hehehe...

      Hapus
  7. Paling suka dengan wisata sejarah. Kapitan ini ternyata ada dimana mana yak. Kalau ga salah di Palembang juga ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kayaknya Kapitan ini ada dimana-mana. Kalau dengar nama kapitan jadi teringat Kapitan Pattimura yang ada di uang kertas seribu rupiah.

      Hapus
  8. keren artikelnya. blognya juga keren :D
    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya mas Undi. Salam kembali.

      Hapus
  9. Baru tau ada rumah' seunik itu gan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Gan, yuk jalan-jalan ke Bagan Siapiapi untuk melihat rumah ini.

      Hapus
  10. Jadi pingin kesini :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo kesini mas. Jalan-jalan ke Bagan Siapiapi.

      Hapus
  11. didirikan awal tahun 1900. tp masih masih bagus tuh rumah dan kayukayunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, walaupun udah berabad, tapi masih kokoh.

      Hapus
  12. peninggalan sejarah kaya gini memang butuh perhatian besar.jangan sampai anak cucu kita gak hanya bisa liat lewat foto saja. sayangnya pemerintah masih menyepelekan situs semacam ini, padahal kalo mau dipromosikan pasti rame kok orang pada datang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mas oll. MAkanya mulai sekarang pemda Rohil mulai membenahi lokasi-lokasi yang memungkinkan dijadikan tempat wisata.

      Hapus
  13. Kalau secara kepemilikan Rumah Kapitan yang satu-satunya tersebut, siapa berarti mas? Itu kalau enggak dirawat, bisa punah. Sebaiknya ada tindakan langsung agar peninggalan bersejarah tersebut enggak punah yang berakibat, generasi berikutnya tidak bisa mengenali sejarahnya sendiri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang katanya rumah ini udah di ambil sama pemerintah setempat. untuk dijadikan tempat wisata sejarah. Tapi sayanganya kurang terjaga.

      Hapus
  14. boleh juga itu di kunjungi, perlu di lestarikan peninggalan bersejarah seperti itu mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener banget gan. Harus dilestarikan peninggalan sejarah ini untuk dijadikan destinasi wisata.

      Hapus
  15. itu sepeda ontel yg roda 3, keren tuh. tp gak bisa buat boncengan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... iya mbah, tapi kecil. Hanya buat anak-anak.

      Hapus
  16. wih keren banget yah,, apa lagi jika untuk melestarikan.. sangat setuju ane gan.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang Keren banget, semoga pemerintah bis merawatnya.

      Hapus
  17. Wow, vintage banget! Keren! Sayang banget jika kemudian rusak dimakan zaman. Semoga pemda setempat memperhatikan keberadaan sejarah seperti ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, sayang banget peninggalan ini kalau tidak di rawat dengan baik.

      Hapus
  18. Wah 1900, tua, tp msh kuat & cantik ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, udah ama tapi masih kokoh dan cantik.

      Hapus
  19. wah seru banget bisa mengunjungi peninggalan masa lampau kayak gini..
    btw, salam kenal bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya seru banget mbak, selama kenal kembali ya mbak Lisa.

      Hapus
  20. Wah asyik ya bisa masuk ke rumah panggung, apalagi di dalamnya ada peninggalan sejarah adat juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya asik dong mbak, bisa lihat barang-barang peninggalan yang antik didalam rumah ini.

      Hapus
  21. Jadi ingat lagu anak-anak :
    "Aku seorang Kapitan ..
    mempunyai pedang panjang ..
    kalo berjalan prak prok prak prok .. Aku seorang kapitan" :D

    Saya baru tahu kapitan itu apa dari blog ini, saya pikir dulu itu Kapiten hehehe .. nice post

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah.... Jadi penasaran saya dengan lagu nya. Kira-kira di Youtube ada gak ya?

      Hapus
  22. Wah, terima kasih sekali atas informasinya, sangat membantu sekali.

    BalasHapus
  23. @Bisma Adinata terimakasih ya udah singgah ke blog nya....

    BalasHapus