Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sudah Sarjana, Tak Hafal Al-Fatihah : Inikah Kualitas Pendidikan Indonesia?

Sudah Sarjana, Tak Hafal Al-Fatihah : Inikah Kualitas Pendidikan Indonesia? bagaimana dengan kualitas pendidikan kita sendiri? Apa kabar kualitas pendidikan Indonesia?
Hey, Mirwaners! Apakah kalian selama ini merasa kalau kualitas pendidikan di Indonesia itu masih tergolong rendah? Ya, meskipun akses terhadap pendidikan, terutama di tingkat dasar, sudah mengalami peningkatan yang baik, namun bagaimana dengan kualitas pendidikan kita sendiri? Apa kabar kualitas pendidikan Indonesia? Ini sudah 2018 lho.



Kalau berdasarkan salah satu pengalaman pribadi sih, kemaren saat bertugas disebuah daerah, aku ketemu seorang sarjana dari sebuah univeristas ternama. Dia masih tergolong fresh graduate. Dia seorang pendatang didaerah itu. Dia seorang muslim, tapi yang bikin aku kaget dan gak habis pikir itu adalah ketika dia tidak bisa membaca surat Alfatihah sampai habis. Hal ini ketahuan ketika dia jadi imam shalat. Dalam hati langsung mikir “Ini anak dari SD ngapain aja? Udah sarjana tapi surat Alfatihah aja gak hafal”. Dan dapat ku pastikan dari temannya kalau dia bukanlah seorang muallaf, tapi dia memang sudah muslim sejak kecil. By the way, foto diatas adalah foto ku, bukan foto dia, ok.

Ada suatu ketika aku pingin kabur dari sebuah acara pernikahan dari penduduk setempat. Pingin kabur karena ada si sarjana ini bikin ulah. Didaerah itu mayoritas penduduk beragama Kristen, dan kebetulan acara pernikahan itu adalah pernikahan orang islam yang dihadiri oleh kebanyakan orang Kristen. Lantas tuan rumah diacara tersebut minta kepada si sarjana ini untuk membacakan doa diacara tersebut. Dan dia pun menyanggupinya. Aku heran, ini anak, alfatihah aja belum hafal, tapi sudah berani tampil didepan orang ramai untuk membacakan doa. Wow! Jadi penasaran.


Ok, awalnya aku husnuzon aja, mungkin dia memang bisa baca doa. Doa kan bisa berbagai macam cara. Tapi ternyata salah besar. Pas saat acara, dia dipanggil untuk ke panggung untuk baca doa. Dia dengan semangat dan PD nya naik ke panggung. Dengan penampilannya yang wah dan menyakinkan dengan memakai peci dan bawa Al-Quran. Tanpa salam dan langsung “A’uzubillahiminasysyaitannirrajiiimmmm…. Bismilaaahirrahmanirrahim”. Lengkap dengan irama kayak mau tadarrus. Aku langsung mikir, “ Dia ini mau baca doa atau mau murattal ya? Kok pake irama gitu." Dan dia langsung buka Al-Quran dan baca….%#$@&%. Ya Allah! Aku kaget setengah mati dan pingin kabur rasanya dari situ. Aku tutup telinga ku dengan kedua tangan ku. Malu aku dengarnya. Yang di baca ntah apa-apa, sembarangan sebut aja. Entah bahasa planet mana yang dia pakai. Belum pernah aku dengar doa yang kek gitu. Bahasanya pun gak mirip-mirip bahasa Arab.

Setelah selesai, aku minta klarifikasi ke dia, dan apa dia bilang “Kamu diam aja. Orang-orang disinikan mayoritas Kristen, jadi mereka gak ngerti kalau aku baca doanya sembarangan sebut.” Ya Tuhan! Ternyata dia menipu orang-orang disini. Gak habis pikir aku. Sanggup banget ya dia bikin kayak gitu. 



Itulah pengalaman ku yang terunik saat berada disuatu daerah. Well, aku gak bermaksud untuk bilang kalau aku lebih baik dari dia. Aku juga sebenarnya gak bermaksud mau bilang kalau pendidikan dia itu rendah. Tapi seperti yang sudah aku bilang, dia kan udah sarjana. At least, hal-hal mendasar kayak gitu seharusnya bisalah dikit-dikit. Dan ini hanyalah salah satu contoh bahwa kulitas pendidikan di Indonesia itu masih tergolong rendah. Ternyata di Indonesia ini, seorang sarjana masih ada yang belum hafal surat Al-Fatihan. Padahal dia bukan muallaf yang baru mengenal ajaran islam. Memang iya sih, dulu waktu kuliah, seingat aku, mata pelajaran agama cuma 2 SKS, gak tau sih sekarang udah berapa SKS.

Ohya, ngomong-ngomong tentang kualitas pendidikan Indonesia, aku jadi teringat dengan postingan Instagram dosen ku, Pak Afrianto Daud, PhD. Nama Instagramnya @udo_anto. Beliau membuat buku yang berjudul Problematika Pendidikan Nasional, dimana didalam buku ini membahas tentang berbagai isu pendidikan nasional kita, termasuk tentang keguruan, kurikulum, ujian nasional, sampai hal-hal teknis terkait pembelajaran yang lebih berkualitas di dalam kelas. Selain bicara tentang beberapa masalah, buku ini juga menyajikan beberapa tawaran solusi untuk dunia pendidikan kita, termasuk dengan belajar pada beberapa 'best practices' di Australia. Jadi, mungkin kalau kalian mau memiliki buku ini, bisa langsung hubungi beliau di Instagram ya.


Kabar gembira! ---- Alhamdulillah, segera terbit buku saya tentang Problematika Pendidikan Nasional. Buku ini adalah kumpulan pemikiran saya tentang berbagai isu pendidikan nasional kita, termasuk tentang keguruan, kurikulum, ujian nasional, sampai hal-hal teknis terkait pembelajaran yang lebih berkualitas di dalam kelas. Selain bicara tentang beberapa masalah, saya juga menyajikan beberapa tawaran solusi untuk dunia pendidikan kita, termasuk dengan belajar pada beberapa 'best practices' di Australia. Saya ucapkan terimakasih kepada beberapa pihak yang telah membantu penerbitan buku ini. Kepada ibu Itje Chodidjah, praktisi dan aktivis pendidikan nasional, yang telah memberikan kata pengantar. Kepada bapak rektor Universitas Riau, Prof. Prof. Dr. Ir. H. Aras Mulyadi, M.Sc, ibu Prof Lesley Harbon, Prof Mulyoto Png, ibu Dr. Lara Fridani, pak Dr. Abukh Bukhori, Bro Dr. Endro Dwi Hatmanto yang telah memberikan endorsement. Juga pada Joni Iskandar Ibnu Buhari dan Kardo Al Minasyi yang telah membantu proses kompilasi dan desain cover. Buku sudah sedang naik cetak. Bagi teman-teman yang tertarik memiliki, silahkan melakukan pre-order dengan menuliskan nama dan nomor kontak yang bisa dihubungi pada postingan ini, atau via inbox. Harga IDR 80,000., (di luar ongkir). Terimakasih. :-) #newbook #newbookalert #newbookstagram #comingsoon #mybook #mypublication #iamateacher #iamawriter #karya #tulisan #dosen #universitasriau #peradaban #order #ayoorder #beliyuk #terimakasih 😊
A post shared by Afrianto (@udo_anto) on

18 komentar untuk "Sudah Sarjana, Tak Hafal Al-Fatihah : Inikah Kualitas Pendidikan Indonesia?"

  1. Yup iman dan taqwa adalah ruh dari perkembangan human dan juga ipteknya. Di kampus semoga tidak melulu masalah iptek tapi juga imtaq sehingga ketika lulus tetap miliki kepribadian yang baik dan mulia.

    BalasHapus
  2. sebenarnya tidak masalah memimpin doa didepan orang yg tidak seiman. Dengan catatan berilah keterangan "doa ini akan saya pimpin secara islam/kristen/katolik/dll". secara langsung, mereka yang tidak sama dengan pemimpin doa akan berdoa secara individu sesuai dg keyakinan mereka. Tidak apa tidak sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup... saya juga ngelakuin kayak gitu kemaren mas waktu didaerah orang lain.

      Hapus
  3. "SARJANA" itu asli dari kampung yg kamu datangin itu ya? Kalo ya, itu ud jd cerita lama ketika anak kampung dianggap sukses sekolah atay kerja, mareka pd jd fanatik mendukung walo si anak kampung sbnr nya ngaco. Kalo ga, jd ingat vikinisasi yg ke kampung2 nipu orang2 dgn omongan sok cerdas & bahasa inggris lebih ngaco. Orang2 setipe gini biasanya pede, narsistik, mikir dirinya & bebal..coba deh Google, ada tuh namanya, cuma kk lupa..

    Kalo ga bisa baca Al Fatihah, mgkn ortu atau kluarganya kurang mendidik atau malah mrk sendiri kurang didikan agamanya..
    Ga heran anak nya pun begitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Plus, common sense nya ga ada, empati, simpati ga jalan..ya ga heran klo dia ga bisa baca sikon & perubahan emosi orang..
      Ini nih, yg bikin gue gengges sm orang2 model gini

      Hapus
    2. Iya kak, bener banget. Pingin rasanya ku remes-remes muka anak tu.

      Hapus
  4. Kalau ada org asal-asalan baca doa, anda ya patut mengingatkan dg menegurnya. Kok anda disuruh diam mau aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku takut dia tersinggung aja mas... dia ntar dia malah anggap aku so pinter gitu...t tapi yaahh... semua sudah terjadi....

      Hapus
  5. Duluuu.. saya apatis dengan problematika dunia pendidikan begini bang. tapi setelah nyemplung jadi guru, mau ga mau saya harus membuka mata dan sedikit memberanikan diri buka suara terhadap permasalahan pendidikan nasional, apalagi di daerah hinterland macam daerah saya saat ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kalau udah jadi guru sih, mau gak mau, kita harus mengajar dan berani bersuara dan menjadi panutan orang lain.

      Hapus
  6. Serius? Mungkin dia ga pernah sholat...jd islamnya sekedar pelengkap data di KTP

    BalasHapus
  7. Kebangetan gitu ya mas mirwan... Duhh kok ngeri gini aku...

    BalasHapus